Antara Cinta dan Cita-cita
Langit kala pagi hari ini terlihat mendung sekali, hembusan angin yang perlahan-lahan mulai menghembuskan tanaman-tanaman yang ada di sekitar rumahku. Terlihat dari kaca jendelanya seorang perempuan yang masih duduk ditemani oleh beberapa buku dan juga laptopnya yang dipakai untuk merangkai kata-kata hingga menjadi kalimat yang memiliki makna. Perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah aku. Dalam kesendirian aku masih termenung tentang hidup ini.
Ada rasa yang tak bisa dijelaskan melalui kata-kata, ada ungkapan yang tak mampu keluar dari lisan dan ada rindu yang tak mampu disampaikan dan masih bersemayam. Akhirnya rangkaian-rangkaian yang tertulis dalam putihnya kertas yang bertuliskan penaku yang bertinta biru ini, aku mulai menulis cerpen-cerpen juga puisi-puisi. Dalam kesendirian waktu pagi ini aku mencoba untuk menulis dan terus menulis tentang rasa yang kurasakan dalam hati.
Untaian demi untaian kata sudah mulai siap tertuliskan dalam putihnya kertas juga jemariku sudah dari tadi menari di atas keiboard laptopku, hingga kini tertulislah rangkaian kata yang berbentuk kalimat yang memiliki arti tentang sebuah makna.
“Rindu…. mengapa harus bersemayam sampai detik ini? Mengapa harus menghampiriku lagi saat ini? Dan mengapa harus dia dan dia lagi. Seorang yang kusebut sebagai inspirasiku yang dulu aku dipertemukan disaat menjalankan perkuliahan di kampusku STAI Darul-Kamal, setelah mengenalnya ada rasa rindu yang mulai tertanam dalam hati, anak remaja biasa menyebutnya dengan sebuah rasa cinta. Hingga rasa kagum yang berlebih itu kini menjadi sebuah rindu yang masih ada dalam qolbuku hingga membuatku menjadi gelisah tak menentu. Karena tergolong perempuan yang pendiam dan tak tau harus kemana aku akan bercerita tentang rasa yang ada? Kepada siapa kulabuhkan gelisah yang muncul secara tiba-tiba? Akupun memutuskan mengambil laptopku untuk menulis dan merangkai kata-kata.
“Aku tak mau lagi terhanyut dalam rasa ini, aku tak mau lagi meneteskan air mata gara-gara rindu di hati. Aku harus bangkit kembali untuk meraih masa depan yang lebih baik lagi , aku harus menggapai cita-citaku, aku harus mengutamakan pendidikanku, Aku harus yakin kalau memang jodoh pasti takkan kemana. Biarlah rasa ini tetap ada, biarlah rindu itu datang tiba-tiba, meski terkadang hatiku tersiksa karena menahannya. Aku harus bangkit dari semua ini. Aku harus lebih mementingkan pendidikanku dan terus berusaha menggapai mimpi yang tertanam sejak dulu ingin menjadi seorang pemimpin atau seorang guru dalam suatu lembaga pendidikan dengan niat bisa bermanfaat bagi diri juga orang lain.
Pendidikan adalah yang paling penting bagiku ketimbang rasa cinta yang masih tertanam ini, sebentar lagi wisuda akan tiba waktunya. Mengenai rindu yang ada biarlah selalu ada, semoga menjadi motivasi dalam berkarya juga dalam menulis. Antara cinta dan pendidikan. Kalau ditanya aku akan memilih pendidikan karena perannya yang begitu penting dalam kehidupan manusia. Tentang cinta bila berjodoh pasti akan datang dengan sendirinya lewat jalan-jalan yang terkadang kita tidak menyadarinya. Pasrahkan saja kepada Allah yang Maha Kuasa, semuanya akan indah pada waktunya.
Bionarasi
Niayah. Lahir di NTB, WA. 0838-5157-3459. Ingin terus berkarya lewat tulisan untuk menjadi amal sepanjang masa. Saat ini punya buku solo: Hadiah Terindah Dari Tuhan Karunia Terindah Dari Yang Maha Indah dan Nikah Atau Lanjutkan Kuliah. .
