TARTIB AN-NUZUL (AL-QUR’AN)
Seperti yang sudah sama-sama kita ketahui, bahwasanya al-Qur’an itu adalah kalamullah yang dijadikan sebagai petunjuk juga pedoman bagi ummat islam. Pada hakikatnya, al-Qur’an bukan hanya petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa saja, akan tetapi petunjuk bagi seluruh ummat manusia bahkan makhluk yang ada di alam semesta ini. Karena merujuk kepada sabda Nabi Muhammad SAW. Yang menyatakan dirinya sebagai rahmat bagi alam semesta, sehingga hal tersebut bisa dijadikan dasar untuk mengatakan al-Qur’an juga sebagai petunjuk bagi alam semesta, mengapa? Karena al-Qur’an itu dibawa oleh Nabi Muhammad yang dikatakan tadi bahwa dirinya adalah rahmat sehingga apa yang dibawanyapun termasuk sebagai rahmat juga.
Terlepas dari semua itu, al-Qur’an tak akan pernah bisa diragukan lagi kebenarannya oleh siapapun juga termasuk orang-orang non muslim baik yang toleran ataupun yang selalu ingin mencari kesalahan daripadanya (orientalis). Kebenaran yang sudah terbukti daripada al-Qur’an sudah sangat banyak sekali, baik itu kisah-kisah terdahulu yang dikisahkan olehnya, atau bahkan sesuatu yang akan terjadi dimasa mendatang dan masa sekarang. Namun walaupun demikian, tak sedikit yang meragukan kebenaran dari al-Qur’an itu sendiri, kenapa? Karena didalam al-Qur’an masih banyak sekali yang membutuhkan penjelasan-penjelasan kenapa seperti itu dan kenapa bisa. Sehingga timbul keinginan untuk menyelidiki dan mencari kebenarannya, namun bukan lseperti kaum orientalis yang ingin menjatuhkan Islam akan tetapi lebih kepada keinginan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaaan yang timbul dari kejanggalan al-Qur’an itu sendiri.
Banyak sekali kejanggalan (yang perlu dijelaskan) dalam al-Qur’an, akan tetapi dalam tulisan ini hanya akan dibahas tentang urutan turunnya al-Qur’an (Tartib an-Nuzul). Dalam kalimat tadi, sudah timbul pertanyaan-pertanyaan yang mungkin sangat ingin diketahui jawabannya oleh pembaca, salah satunya kenapa urutan turunnya ayat al-Qur’an berbeda dengan urutan penulisan didalam mushaf al-Qur’an itu sendiri? Ataukah al-Qur’an itu sengaja dimodifikasi oleh orang-orang dulu, padahal pada masa Nabi Muhammad tidak melakukan pengumpulan ayat-ayat al-Qur’an dalam satu mushaf?
Merujuk kepada pertanyaan tadi, kita akan dibawa terlebih dahulu kepada zaman dimana sejarah turunnya al-Qur’an. Pada mulanya, al-Qur’an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril, bukan langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad, yang kemudian ayat yang diturunkan itu dilakukan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 22 tahun. Tentu saja hal tersebut akan memudahkan Nabi Muhammad juga para sahabat untuk menghafal dan juga mempelajarinya. Kemudian ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan itu tidak semata-mata turun tanpa adanya sebab, akan tetapi ayat-ayat tersebut diturunkan karena mengikuti kondisi ummat pada masa itu.
Setelah itu, Nabi Muhammad mengadakan kebijakan pada para sahabat waktu itu, yakni :
- Perintah menghafal al-Qur’an
- Perintah menulis al-Qur’an
- Larangan menulis selain ayat al-Qur’an
Tentu saja semua itu ada sebabnya, kemudian yang kita bahas adalah perintah menulis al-Qur’an. Pada dasarnya, penulisan ayat-ayat al-Qur’an memang sudah diperintahkan langsung oleh Nabi Muhammad, beliau memerintahkan para katib al-Qur’an menulis ayat al-Qur’an sesuai dengan surah tempat yang disuruh olehnya, yang dikenal dengan istilah tauqifi. Jadi, ayat al-Qur’an yang sekarang ini memang sudah ditetapkan oleh Nabi Muhammad sendiri, bukan semata-mata ditulis atas kemauan dan akal-akalan sahabat, dalam menyusun ayat dan surahnya.
Kemudian, urutan turun surah al-Qur’an berbeda dengan urutan dalam mushaf, jika selama ini kita mengetahui bahwasanya ayat al-Qur’an yang pertamakali turun adalah (QS. al-Alaq : 1-5) lantas mengapa ia tidak ditulis pertama dalam mushaf? Mungkin pertanyaan itu sekarang timbul dalam benak pembaca, padahal surah al-Fatihah yang berada diawal mushaf itu bukanlah yang pertamakali diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Menurut referensi yang penulis baca, al-Fatihah adalah surah yang diturunkan ke 5 bukan pertama (yang pertama adalah al-Alaq). Salah satu alasan yang bisa kita telaah adalah jika al-Qur’an disusun berdasarkan urutan turunnya wahyu maka semuanya tidak akan berkesinambungan, alasannya kadang wahyu yang turun satu ayat, dua ayat dan seterusnya sehingga kalau kita mengikuti urutan turunnya wahyu, maka antara surah yang satu dengan yang lainnya akan campur aduk dan tak sistematis. Padahal Rasululluah sendiri sudah memerintahkan kepada katibnya untuk menulis ayat al-Qur’an sesuai dalam surahnya.
Para sahabat juga sepakat, bahwasanya al-Qur’an yang sekarang ini juga merupakan sesuai yang sudah dipraktikkan oleh Rasulullah dalam bacaannya. Karena para sahabat juga sudah sepakat al-Qur’an sekarang adalah sesuai dengan bacaan Rasulullah baik dalam shalat ataupun diluar shalat maka kitapun harus menyetujuinya.
Kesimpulan dari uraian diatas adalah, al-Qur’an yang sekarang ini berbeda sistematika penyusunannya dengan susunan turunnya, hal itu disebabkan karena perintah dari Rasulullah sendiri untuk menyusun ak-Qur’an sesuai dengan surahnya.
