20 mins read

Legenda Seriga Penghuni Gunung Sragen

“Legenda Serigala Penghuni Gunung Sragen.”  “karena ujian akhir semester sebentar lagi akan berakhir, kami para dosen sepakat akan mengadakan camping minggu depan yang rencananya akan kita adakan di daerah puncak. bagi yang berminat  ikut, di mohon untuk segera menyerahkan namanya pada sekertaris kelas masing-masing, tapi sebelum itu kalian harus meminta izin pada orang tua masing-masing terlebih dahulu.” Tegas pak Rudi, dosen sosiologi. Suasana aula kampus yang tadinya terlihat membosankan kini di hiasi senyum dan tepuk tangan dari mahasiswa-mahasiswi yang girang mendengar pengumuman tersebut. begitupun dengan Stella. Pengumuman itu membuatnya seakan melayang-layang terbawa rasa bahagia karena camping ke puncak adalah impiannya sejak kecil. Dulu Stella pernah sempat akan melakukan camping ke puncak, tapi karena keadaan tubuhnya yang tiba-tiba ngedrop membuat ibunya khawatir sehingga tak mengizinkannya ikut dengan teman-teman.  *** Stella terlihat sibuk mengemasi barang-barang yang akan ia bawa untuk berlibur ke puncak. mulai dari menyediakan jaket, selimut, dan keperluan lainnya. Hari ini wajahnya terlihat bersemangat sekali, sesekali ia mengecek kembali barang barang bawaannya untuk memastikan semua yang di butuhkan nanti tak ada yang tertinggal. “Aduh udah nggk sabar ni pengen cepet cepet rasain gimana rasanya tinggal di puncak’ pasti seru banget!! secara di sana udaranya lebih segar, pemandangan indah, lingkungannya lebih asri dan yang pastinya jauh berbeda sekali dengan keadaan di kota yang banyak polusi akibat banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang setiap harinya.” Ucapnya sambil tak henti-hentinya membayangkan apa saja yang akan ia lakukan saat di puncak nanti, membayangkan keseruan saat membangun tenda, membuat api unggun sambil bernyanyi, dan banyak sekali kegiatan seru lainnya. Jam menunjukkan pukul tujuh tiga puluh, sesuai kesepakan yang telah di buat bersama, semua peserta yang akan ikut camping harus datang sebelum waktu yang di sepakati, jika tidak maka tidak ada toleransi lagi, dalam artian di tinggal. “Ayok cepat masuk Stell, ntar bisnya keduluan penuh, kamu mau apa berdiri jadi karnet.” Ucap Rey dengan nada menakut-nakuti Stella, yang di iringi tawa polosnya. Langkah Rey di ikuti Stella tanpa berkomentar apapun, sesekali ia bertingkah aneh, mungkin dia membayangkan bagaimana nasibnya jika harus berdiri seperti kernet. Rey mengajak Stella duduk di dekat jendela agar ia bisa melihat indahnya pemandangan. sesekali stela yang terlihat girang ikut bernyani bersama yang lainnya, sembari merasakan sentuhan udara yang kian sejuk menerpa kulitnya yang lembut. betapa bahagianya Stella hari ini bisa merasakan hal yang telah ia idam-idamkan selama ini bisa kesampean. Memasuki daerah puncak mata stela di buat kian terpukau dengan pemandangan yang begitu indah. pepohonan yang nampak rindang dan segar dengan daun hijau yang terlihat lebat, merdu kicauan burung-burung hutan, monyet-monyet bergelantungan di pohon-pohon seakan tengah bergembira menyambut kedatangan mereka.terlihat pegunungan berjejer rapi, pohon cemara seakan melambai-lambai membawa ketenangan tersendiri bagi Stella. benar-benar perjalanan yang menyenangkan. 	“Anak-anak silahkan mulai membangun tenda kalian, tapi sebelumnya saya akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari lima orang.”Ucap salah seorang dosen dengan nada terdengar bersemangat.  	Setelah pembagian kelompok selesai, kini setiap kelompok sibuk dengan urusan mereka masing-masing. kelompok stela sendiri kesulitan dalam membangun tenda, terlihat beberapa kali tenda yang mereka bangun rubuh kembali. Rey yang sendari tadi melihat Stella kesusahan membangun tenda kini mendekati Stella dan membantunya membangun tenda, dan tanpa menunggu lama tendapun siap. 	 					**** 	Di daerah puncak seperti ini angin seakan selalu bertiup menyenangkan. Tidak pagi, tidak siang, tidak juga malam. Namun angin di daerah puncak seakan berhembus lembut membelai kulit para pengunjungnya. 	“masih jauh tempatnya Rey?.”Kaki-kaki anak muda itu terlihat gesit melangkah melewati jalan-jalan yang semakin terjal. sesekali turun menyusuri sungai setinggi mata kaki yang airnya terlihat jernih. Di tengah hutan daerah puncak ini terdapat beberapa cabang anak sungai yang mengalir ke induk sungai yang berada di dekat pemukiman warga. 	“masih.” Tubuh kekar yang terlihat gagah dan dua puluh senti lebih tinggi di bangdingkan Stella yang sendari tadi bertanya tak sabar tepat di belakangnya menjawab singkat. 	“seberapa jauh lagi Rey, seratus meter, dua ratus, atau satu kilo lagi?”keciplak-kecipluk. Suara langkah kaki yang sedang menyusuri sungai. 	“Bentar lagi juga sampai kok, Hati-hati batunya sedikit basah dan licin Jangan sampai kamu jatuh Stell” Ucap Rey sedikit mengingatkan. 	Suara kicauan burung  sore itu seakan memenuhi langit-langit hutan. Terlihat rimbunan dedaunan yang begitu rindang, Sinar matahari seakan merombos dari celah-celah kabut putih dan dedaunan pohon hutan dengan warna yang kian memanjakan mata, sekilas seperti lampu udara yang mengambang-ambang pada langit di malam hari. 	Stella dan Rey sudah menyusuri hutan sejak dua puluh menit yang lalu. Rey yang berjalan di depan Stella sesekali terlihat sibuk menebas semak-semak yang menghalangi jalan. Di tengah hutan seperti ini memang tidak ada jalan alternatif, yang ada hanyalah jalan setapak yang tak jarang di tumbuhi semak-semak karena memang jarang di lalui. 	Seakan bertugas sebagai pemandu wisata, Rey menunjukkan Stella tempat-tempat indah yang selalu di datangi setiap berlibur ke rumah kakeknya, dia hafal betul betul seluk-beluk dari hutan ini. Bagaimana tidak, sejak umur lima tahun rey sudah tak tinggal di desa Lembah Sanggar ini karena pindah ke kota mengikuti ayah dan ibunya. Namun setiap liburan rey selalu menghabiskan waktunya di desa ini, rumah kakeknya. Tak jarang ia mengikuti teman-teman sebaya di desa Lembah Sanggar untuk bermain. Mulai dari berpetualang, memancing, mencari kayu bakar, dan banyak kegatan lainnya. tempat favorit Rey di desa ini  adalah tempat tupai-tupai hutan yang ingin ia tunjukkan pada Stella saat ini. 	“Masih jauh Rey.” Sahabatnya yang seakan mati di buat penasaran itu sendari tadi menanyakan apakah perjalanannya masih panjang. 	“Masih.”Rey menjawab pertanyaan sahabatnya itu dengan nada sedikit sebal. Sepanjang perjalanan ini sudah ke dua puluh kalinya Stella menanyakan hal itu. 	lembah sanggar seakan menjadi tempat yang sangat indah di sore harinya. Desa yang letaknya di lereng pegunungan ini menjadi tempat wisata para wisatawan-wisatawan baik lokal maupun wisatawan dari luar. Bukan hanya karena tempatnya yang terasa nyaman saat kulit pertama kali di belai dengan lembut akan udara segarnya, namun lembah sanggar ini seakan menyimpan banyak misteri dan keindahan yang membuat para wisatawan-wisatawan terus berdatangan di setiap harinya. 	“Masih jau nggk Rey.” Stella kembali menanyakan hal yang sama  	Rey tidak menjawab, dia hanya sedikit memberikan isyarat pada Stella. 	“Sssst, Rey memberhentikan langkahnya dengan sedikit membungkukkan badan tegapnya. Stella yang heran melihat sahabatnya yang tiba-tiba berhenti berbisik menanyakan alasan kenapa dia tiba-tiba bertingkah seperti itu. 	Rey melanjutkan langkahnya dengan pelan-pelan dan di ikuti Stella. mereka mendekat dengan mengendap-ngendap agar Tupai-tupai itu tidak berlari karena ketakutan. 	“Stell!!, sekarang coba kamu liat di depan sana. Rey berbisik pada Stella. 	Stella terlihat kebingungan apa maksud dari sahabatnya itu. Yang dia lihat hanyalah pohon beringin besar dan dua batu cadas di bawahnya. 	“Maksudmu apa Rey, jadi kamu mengajakku berjalan menyusuri hutan sejauh ini  hanya untuk menunjukanku pohon beringin dan batu itu.” Stella terlihat sebal dengan mengeraskan suara. 	“apaan sih Stell, liat dulu dong baik-baik di sebelah beringin yang satunya lagi.”  	Stella memperhatikan kembali apa yang ada di depannya, berusaha mencari arah yang di tunjukkan Rey. Tiba-tiba ekpresin wajah Stella terliha antusias saat ia melihat tujuh Tupai di atas pohon. Dia merangkak mengintip dari balik pohon besar dengan meraba ponsel yang ada di kantung bajunya.dia tak henti hentinya melotot melihat tupai yang terlihat sedang membuat rumahnya di atas pohon beringin besar yang rindang. 	Pusssh.pusshh.pussh. 	Stella yang tak tahan lagi ingin memotret Tupai-tupai itu dari jarak lebih dekat lagi tak sengaja menginjak ranting pohon kering. Rey mencubitnya. Beruntung tupai-tupai itu tak mendengarnya dan lari akibat ulah Stella. 	Pusshh. Itu suara tupai ke tujuh yang melompat ke sungai yang sekilas terlihat seperti bendungan kecil yang sengaja di buat dengan di tebengi bebatuan  dan batang pohon kering yang telah tumbang. Dengan gagahnya tupai-tupai itu terjun ke sungai, seakan seorang atlet renang yang sedang memain keahliannya dalam melompat indah. Sungai itu terlihat jernih dengan air yang mengalir langsung dari jantung hutan yang selama ini telah banyak di manfaatkan penduduk lembah sanggar sebagai sumber air minum. Namun yang jadi permasalahannya adalah penduduk di sana masih belum bisa menmanfaatkannya untuk mengairi pesawahan mereka. 	“terbayar sudah lelah perjalananku selama beberapa menit ini”. Stella yang tadinya saat dalam perjalanan terlihat sebal dan tak henti-hentinya bertanya pada Rey kini terlihat antusias dan sangat gembira seakan ingin tetap berada di tempat itu untuk beberapa jam lagi. 	“Kita kembali ke tenda sebelum mataharinya terbenam”. Rey yang tadinya beberapa kali melihat jam tangannya memutuskan untuk kembali ke tenda sebelum mata hari terbenam karena ia tak ingin terjadi apa-apa dengan sahabatnya. Konon katanya hutan di Lembah sanggar ini di huni oleh dua serigala yang selalu mencari mangsanya saat matahari sudah terbenam. Legenda ini semakin di kuatkan dengan cerita salah seorang penduduk yang katanya telah mendengarkan langsung  suara long-longan serigala tersebut saat sedang mencari kayu bakar di hutan. 	“ayo Stell kita  kembali ke penginapan sebelum mataharinya terbenam.” Rey mengulang kembali perkataannya yang mungkin tak di dengarkan oleh Stella. 	“nanti dulu ya Rey. Aku masih pengen liat tupainya sampai masuk ke rumahnya, kayaknya lucu deh.” 	Rey berjalan meninggalkan Stella karena dia tau sifat Sahabatnya itu kalau sudah begitu akan sangat sulit sekali di bujuk. 	“Rey, yah kok kamu ninggalin aku sihRey.” stella berusaha mengejar sahabatnya yang tiba-tiba meninggalkannya. 	“Aku kenal kamu udah lama. Kalau aku nggk ninggalin kamu pasti bakalan sulit banget di bujuk kalau udah yang namanya terlanjur seneng atau sedih.  	“Tapikan aku pengen liat Tupai-tupainya sampai masuk ke rumahnya, itu aja kok.”  	“Yaudah kalau kamu pengen liat. Mending balik kesana nanti pulang sendiri kalau udah puas ngeliatnya.” Rey menjawab omongan Stella dengan sedikit judes. Bukan karena rey marah atau kesal, melainkan dia hanya tak ingin terjadi hal yang tak mereka inginkan kalau harus pulang sampai hutan mulai gelap hanya gara-gara menurutu kemauan Stella. 	“Rey, pelan-pelan dong jalannya. kayak orang lagi di kejar setan aja.” Stella terlihat sedikit jengkel dengan sikap Rey yang sendari tadi terus berjalan dengan begitu gesit membuat Stella kewalahan mengejarnya. Mereka kembali ke perkemahan dengan selamat, walaupun Stella yang terus berusaha menyamakan langkahnya dengan Rey sesekali terjatuh. Beruntung mereka sampai ke perkemahan tepat waktu sebelum akhirnya semua berkumpul untuk melakukan kunjungan ke desa-desa di sana untuk memberikan sedikit bantuan pada masyarakat lembah sanggar dan sekitarnya. 	“Baiklah, mohon perhatiannya sebentar. Sekarang kita akan melakukan kunjungan ke desa-desa sekitar puncak dengan sedikit memberikan bantuan pada mereka. Di mohon kepada rekan-rekan sekalian untuk menjaga sikap saat kita mulai melakukan kunjungan nanti, dan di mohon pada rekan-rekan yang telah di tunjuk sebagai panitia dalam pembagian bantuan agar melaksanakan tugasnya dengan baik.” Suara pak gilang terdengar begitu tegas namun santun. 	Tak menunggu lama merekapun mulai mengunjungi desa-desa di sekitaran puncak mulai dari Lembah Sanggar, Lembah lembayan, dan desa-desa lainya tanpa ada kendala sedikitpun, merekapun di sambut dengan baik oleh masyarakat di sana, di anggap seperti keluarga sendiri. Terlihat beberapa warga melayani mereka sebagai tamu istimewa. Penduduk Lembah Sanggar sedang berkumpul malam ini untuk merayakan pesta pernikahan anak seorang petua di desa itu. Rombonganpun di undang dalam rangka menyambung silaturrahmi dan  kekeluargaan karena masyarakat lembah sanggar merasa rombongan Stella dan lainnya sudah sangat baik kepada mereka. masyarakat lembah sanggar mulai memainkan tarian-tarian adat mereka yang di iringi dengan suara gendang yang di mainkan dengan suara khas. Terlihat lenggak-lenggok penarinya dengan gestur tubuh yang kian menawan gerakan-gerakan tari khas desa lembah Sanggar benar-benar indah dan cukup langka. Setiap gerakan yang di lakukan merupakan simbol yang memiliki makna budaya dan keagamaan tersendiri. 	 	“Dimana Stella,” Rey yang tersadar bahwa sahabatnya Stella sendari tadi tak terlihat seakan membuat suasana yang tadinya di selimuti kegembiraan berubah menjadi tegang. 	“Ayo dong dimana Stella. Ada yang sudah melihatnya atau tidak.” Rey yang sendari tadi mencari-cari Stella kembali menyakan keberadaan Stella pada yang lainnya, terlihat jelas sekali dari gelagatnya ia khawatir sekali dengan keadaan Sahabatnya Stella. 	“Tasya kamu tau Stella dimana, tadi terakhir kali aku melihatnya bersamamu.”tanya Rey. Tasya menggelengkan yang menandakan bahwa ia tak tahu keberadaan Stella. 	“Sebaiknya kita bergegas mencarinya sebelum terlambat.” Ucap Salah seorang warga lembah sanggar memecahkan suasana sepi tersebut. 	“Apa maksudmu Sebelum terlambat?.sebagian mahasiswa yang terlihat bingung bercampur khawatir tersebut bertanya-tanya pada pemuda itu. Ucapan pemuda itu membuat Rey semakin khawatir. Fikiran rey langsung tertuju pada Cerita yang sering ia dengar dari kakeknya tentang serigala penghuni gunung Sragen. 						****   Bagi penduduk di Lembah Sanggar itu, Legenda Tentang Serigala Gunung Sragen selalu di wariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Mungkin dahulu para orang Tua sengaja membuat kisah demikian agar anak-anak mereka tidak terlalu pulang larut malam dan bermain ke jantung hutan tersebut. 	Di kisahkan di lembah gunung sanggar ratusan tahun silam bangsa serigala dan manusia hidup secara berdampingan, saling melengkapi dan mencukupi. Antara Bangsa serigala dan manusia bisa hidup saling berdampingan tanpa saling mengganggu sedikitpun. Hingga pada suatu ketika perdamain yang kian telah terjalin lama itu berakhir dengan peristiwa tragis.  Seorang penduduk kampung Lembah Sanggar yang sedang mencari rotan di tengah hutan tersesat dan tak sengaja memasuki daerah terlarang di tengah jantung hutan. Entah apa yang terjadi malam itu. Penduduk warga lembah sanggar yang sedang di landa ketakutan dan khawatir itu dengan keadaannya di tengah hutan tak sengaja melempari semak-semak yang bergerak. Pisau yang ia lemparkan mengenai seekor anak serigala yang menyebabkan anak serigala itu mati.  Karena di anggap merusak perjanjian, para bangsa serigala meminta ganti rugi, yaitu nyawa harus di balas dengan nyawa. karena penduduk Lembah Sanggar menolak keinginan dari bangsa Serigala tersebut. Maka bangsa Serigala memutuskan untuk membalas dendam dengan mencuri anak-anak penduduk Lembah sanggar di waktu malam. Sejak kejadian itulah bangsa Serigala di Sebut-sebut sebagai siluman. Seiring berjalannya waktu populasi serigala semakin berkurang karena banyaknya perambah dari kota dan para pemburu yang secara sengaja memburu mereka untuk di ambil daging dan kulitnya. Serigala-serigala yang behasil kabur terpaksa melarikan diri ke jantung hutan yang di anggap aman sebagai tempat bersembunyi. Legenda tersebut di percayai hingga saat ini. *** 	 	“Kita harus bergegas. Sebelum malam mulai larut teman kalian harus sudah kita temukan. Serigala penghuni gunung Sragen biasanya akan menipu mangsanya dengan membuat halusinasi yang akan terlihat sebagai sebuah gubuk yang penuh dengan keramain. 	“kita bagi menjadi dua kelompok. Saya dan sebagian pemuda lainnya berjalan menyusuri hutan ke arah selatan dan sebagian lagi menyusuri hutan ke arah barat. Perintah Wak Aziz yang di percayai sebagai  petuah di desa sanggar. 	Rey yang di luputi rasa cemas akan keadaan sahabatnya itu terus melirik jam yang menempel di tangannya. jam menunjukkan pukul setengah dua belas. Kekhawatiran Rey semakin memuncak saat mendengar suara lolongan Serigala seakan terdengar seram dan menakutkan.  	“ini semua salahku.”seandainya aku tak membiarkan Stella sendiri ini semua tak kan mungkin terjadi. Ini semua salahku.” Tak henti-hentinya Rey menyalahkan dirinya sendiri. 	“Bagaimana?, apa ada yang menemukan Stella. Ucap wak Aziz dengan nada sedikit penasaran.  	Tak ada jawaban. Tak seorangpun yang bisa melihat jejak Stella apalagi menemukannya. Kekhawatiran Rey tak mampu untuk di bendung lagi. Rey seakan prustasi dengan semuanya kembali menyalahkan dirinya. 	Rey teringat sesuatu. ”Tupai pohon itu. Ia tupai pohon itu, pasti Stella kembali kesana sendirian karena jika mengajakku ia tentu tahu aku akan menolaknya.” Tanpa berfikir panjang Rey berlari ke rumah kakeknya, kakek Burhan. Seakan tak peduli dengan keadaannya saat ini karena dari tadi pagi Rey tak pernah Ber istirahat. Yang ada pada fikirannya saat ini hanyalah Stella. Keselamatan Stella jauh lebih penting dari segalanya.  	Tangan kekar Rey dengan Sigap mengambil Pedang peninggalan dari Pamannya yang di nyatakan sebagai salah satu korban dari Siluman Serigala penghuni gunung Sragen itu. Waktu itu usia Rey sekitar lima bulan. Wak panji, paman dari ibu Rey pergi untuk berburu ke hutan. Namun hingga larut malam Wak Panji tak kunjung pulang, tentunya semua keluarga cemas dengan keadaan Wak Paji, terutama mak wandari ibu Rey. karena wak Panji tak kunjung pulang, warga memutuskan untuk melakukan pencarian malam itu juga. Semua pemuda desa telah di kerahkan dalam pencarian, namun tak ada yang berhasil menemukan Wak panji. Karena malam sudah mulai larut, dengan terpaksa warga memutuskan untuk melanjutkan pencarian di waktu pagi. dalam perjalanan pulang seorang pemuda yang tersandung akar pohon dan terjatuh tak sengaja menemukan pedang yang telah bercampur dengan percikan darah yang terlihat sudah mulai mengering. 	“Ini pedang yang di bawa Panji terakhir kali.” Ucap mak wandari dengan tangisan yang tak henti henti. Sejak itulah Wah Panji di duga telah menjadi korban Siluman Serigala penghuni Gunung Sragen. 	Rey tak mau kejadian yang menimpa Wak panji menimpa Sahabatnya Stella. Lantas ia berlari sekencang-kencangnya ke tempat tupai-tupai pohon itu. 	“Stella tunggu aku.”Ak tak ingin kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya.”  	Rey menyusuri jalan yang penuh dengan semak-semak hanya dengan di bekali obor dan pedang peninggalan Wak panji. Sesekali ia terlihahat sibuk menebas semak-semak yang menghalangi jalannya. 	“Stella. Stella. Kamu dimana aku mohon jawab panggilanku. Jangan buat aku khawatir dong.”  **** 	 Stella berjalan pontang-panting tak tau arah. Hutan semakin gelap tak ada cahaya sedikitpun kecuali cahaya rembulan malam itu. Stella tak tau lagi akan berbuat apa, suara lolongan serigala seakan membuatnya mati ketakutan. 	“Rey, kamu di mana. Tolong aku”.Stella hanya bisa menangis pasrah dengan keadaannya di tengah hutan dengan ketakutan luar biasa yang ia rasakan malam ini. 	“Srekk.Srekk.Srekk.” 	Terlihat semak-semak  yang bergoyang, semakin menambah ketakutan Stella. Suara lolongan serigala semakin keras dan terdengar semakin dekat menjadikan Menjadikan Stella seakan mati rasa. 	“Rey, please tolong aku. Aku janji nggk bakalan pergi diam-diam lagi kayak gini. Tak henti-hentinya Stella memanggil-manggil nama sahabatnya Rey, berharap segera menyelamatkanyya. 	Stella sangat terkejut, bercampur dengan ketakutan yang luar biasa saat dua ekor Serigala tiba-tiba muncul dari semak-semak. Sesekali Stella coba melarikan diri, namun apalah dayanya, Tenaganya sudah terkuras habis karena lelah berjalan menyusuri hutan. 	Stella terjatuh tersandung akar pohon beringin besar yang tak bisa ia lihat karena gelap. 	“ duh kakiku sakit sekali.” Terdengar suara Stella merengek kesakitan saat terjatuh tersandung akar pohon beringin tadi. Dua Serigala itu semakin mendekat, seakan siap menerkam Stella. 	“Tolong. Tolong.” Tak ada gunanya lagi meminta bantuan gumamnya dalam batin. Seakan pasrah dengan nasipnya yang akan menjadi santapan dua serigala yang terlihat ganas dan lapar. Stella kembali bangkit, berusaha bangkit. Namun sayang kakinya kembali tersandung akar pohon, kepalanya terbentur ke sebuah bati di depannya. Perlahan kesadarannya mulai hilang, iapun pasrah pada nasibnya saat ini. 	Entah darimana munculnya. Rey seakan malaikat penyelamat bagi Stellla, dia selalu muncul tepat waktu. Terlihat badan kekarnya itu seakan memasang kuda-kuda untuk melawan dua serigala lapar itu 	“Enyahlah kalian.” Rey menyodorkan api obor yang ia pegang dengan tangan kirinya pada serigala-serigala itu. 	Seakan tak kenal taku, dua serigala itu seakan mengambil ancang-ancang untuk menerkam. 	“Jika kalian lapar, makanlah aku jangan Stella, Lepaskan dia.” Seakan tak peduli dengan nyawanya sendiri, Rey seolah-olah membuat kesepakatan dengan kedua serigala di depannya. Dia  pasrah sebagai pengganti Stella untuk menjadi santapan dua serigala tersebut. 	Entah apa yang terjadi pada serigala-serigala itu, seakan mengerti dan terharu akan pengorbanan  Rey yang tak peduli akan keselematannya sendiri hanya demi Sahabatnya Stella. Serigala-serigala itu pergi meninggalkan mereka dan akhinya mereka berdua selamat.

“Legenda Serigala Penghuni Gunung Sragen.”

“karena ujian akhir semester sebentar lagi akan berakhir, kami para dosen sepakat akan mengadakan camping minggu depan yang rencananya akan kita adakan di daerah puncak. bagi yang berminat ikut, di mohon untuk segera menyerahkan namanya pada sekertaris kelas masing-masing, tapi sebelum itu kalian harus meminta izin pada orang tua masing-masing terlebih dahulu.” Tegas pak Rudi, dosen sosiologi.
Suasana aula kampus yang tadinya terlihat membosankan kini di hiasi senyum dan tepuk tangan dari mahasiswa-mahasiswi yang girang mendengar pengumuman tersebut. begitupun dengan Stella. Pengumuman itu membuatnya seakan melayang-layang terbawa rasa bahagia karena camping ke puncak adalah impiannya sejak kecil. Dulu Stella pernah sempat akan melakukan camping ke puncak, tapi karena keadaan tubuhnya yang tiba-tiba ngedrop membuat ibunya khawatir sehingga tak mengizinkannya ikut dengan teman-teman.
***
Stella terlihat sibuk mengemasi barang-barang yang akan ia bawa untuk berlibur ke puncak. mulai dari menyediakan jaket, selimut, dan keperluan lainnya. Hari ini wajahnya terlihat bersemangat sekali, sesekali ia mengecek kembali barang barang bawaannya untuk memastikan semua yang di butuhkan nanti tak ada yang tertinggal.
“Aduh udah nggk sabar ni pengen cepet cepet rasain gimana rasanya tinggal di puncak’ pasti seru banget!! secara di sana udaranya lebih segar, pemandangan indah, lingkungannya lebih asri dan yang pastinya jauh berbeda sekali dengan keadaan di kota yang banyak polusi akibat banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang setiap harinya.” Ucapnya sambil tak henti-hentinya membayangkan apa saja yang akan ia lakukan saat di puncak nanti, membayangkan keseruan saat membangun tenda, membuat api unggun sambil bernyanyi, dan banyak sekali kegiatan seru lainnya.
Jam menunjukkan pukul tujuh tiga puluh, sesuai kesepakan yang telah di buat bersama, semua peserta yang akan ikut camping harus datang sebelum waktu yang di sepakati, jika tidak maka tidak ada toleransi lagi, dalam artian di tinggal.
“Ayok cepat masuk Stell, ntar bisnya keduluan penuh, kamu mau apa berdiri jadi karnet.” Ucap Rey dengan nada menakut-nakuti Stella, yang di iringi tawa polosnya. Langkah Rey di ikuti Stella tanpa berkomentar apapun, sesekali ia bertingkah aneh, mungkin dia membayangkan bagaimana nasibnya jika harus berdiri seperti kernet.
Rey mengajak Stella duduk di dekat jendela agar ia bisa melihat indahnya pemandangan. sesekali stela yang terlihat girang ikut bernyani bersama yang lainnya, sembari merasakan sentuhan udara yang kian sejuk menerpa kulitnya yang lembut. betapa bahagianya Stella hari ini bisa merasakan hal yang telah ia idam-idamkan selama ini bisa kesampean.
Memasuki daerah puncak mata stela di buat kian terpukau dengan pemandangan yang begitu indah. pepohonan yang nampak rindang dan segar dengan daun hijau yang terlihat lebat, merdu kicauan burung-burung hutan, monyet-monyet bergelantungan di pohon-pohon seakan tengah bergembira menyambut kedatangan mereka.terlihat pegunungan berjejer rapi, pohon cemara seakan melambai-lambai membawa ketenangan tersendiri bagi Stella. benar-benar perjalanan yang menyenangkan.
“Anak-anak silahkan mulai membangun tenda kalian, tapi sebelumnya saya akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari lima orang.”Ucap salah seorang dosen dengan nada terdengar bersemangat.
Setelah pembagian kelompok selesai, kini setiap kelompok sibuk dengan urusan mereka masing-masing. kelompok stela sendiri kesulitan dalam membangun tenda, terlihat beberapa kali tenda yang mereka bangun rubuh kembali. Rey yang sendari tadi melihat Stella kesusahan membangun tenda kini mendekati Stella dan membantunya membangun tenda, dan tanpa menunggu lama tendapun siap.

****
Di daerah puncak seperti ini angin seakan selalu bertiup menyenangkan. Tidak pagi, tidak siang, tidak juga malam. Namun angin di daerah puncak seakan berhembus lembut membelai kulit para pengunjungnya.
“masih jauh tempatnya Rey?.”Kaki-kaki anak muda itu terlihat gesit melangkah melewati jalan-jalan yang semakin terjal. sesekali turun menyusuri sungai setinggi mata kaki yang airnya terlihat jernih. Di tengah hutan daerah puncak ini terdapat beberapa cabang anak sungai yang mengalir ke induk sungai yang berada di dekat pemukiman warga.
“masih.” Tubuh kekar yang terlihat gagah dan dua puluh senti lebih tinggi di bangdingkan Stella yang sendari tadi bertanya tak sabar tepat di belakangnya menjawab singkat.
“seberapa jauh lagi Rey, seratus meter, dua ratus, atau satu kilo lagi?”keciplak-kecipluk. Suara langkah kaki yang sedang menyusuri sungai.
“Bentar lagi juga sampai kok, Hati-hati batunya sedikit basah dan licin Jangan sampai kamu jatuh Stell” Ucap Rey sedikit mengingatkan.
Suara kicauan burung sore itu seakan memenuhi langit-langit hutan. Terlihat rimbunan dedaunan yang begitu rindang, Sinar matahari seakan merombos dari celah-celah kabut putih dan dedaunan pohon hutan dengan warna yang kian memanjakan mata, sekilas seperti lampu udara yang mengambang-ambang pada langit di malam hari.
Stella dan Rey sudah menyusuri hutan sejak dua puluh menit yang lalu. Rey yang berjalan di depan Stella sesekali terlihat sibuk menebas semak-semak yang menghalangi jalan. Di tengah hutan seperti ini memang tidak ada jalan alternatif, yang ada hanyalah jalan setapak yang tak jarang di tumbuhi semak-semak karena memang jarang di lalui.
Seakan bertugas sebagai pemandu wisata, Rey menunjukkan Stella tempat-tempat indah yang selalu di datangi setiap berlibur ke rumah kakeknya, dia hafal betul betul seluk-beluk dari hutan ini. Bagaimana tidak, sejak umur lima tahun rey sudah tak tinggal di desa Lembah Sanggar ini karena pindah ke kota mengikuti ayah dan ibunya. Namun setiap liburan rey selalu menghabiskan waktunya di desa ini, rumah kakeknya. Tak jarang ia mengikuti teman-teman sebaya di desa Lembah Sanggar untuk bermain. Mulai dari berpetualang, memancing, mencari kayu bakar, dan banyak kegatan lainnya. tempat favorit Rey di desa ini adalah tempat tupai-tupai hutan yang ingin ia tunjukkan pada Stella saat ini.
“Masih jauh Rey.” Sahabatnya yang seakan mati di buat penasaran itu sendari tadi menanyakan apakah perjalanannya masih panjang.
“Masih.”Rey menjawab pertanyaan sahabatnya itu dengan nada sedikit sebal. Sepanjang perjalanan ini sudah ke dua puluh kalinya Stella menanyakan hal itu.
lembah sanggar seakan menjadi tempat yang sangat indah di sore harinya. Desa yang letaknya di lereng pegunungan ini menjadi tempat wisata para wisatawan-wisatawan baik lokal maupun wisatawan dari luar. Bukan hanya karena tempatnya yang terasa nyaman saat kulit pertama kali di belai dengan lembut akan udara segarnya, namun lembah sanggar ini seakan menyimpan banyak misteri dan keindahan yang membuat para wisatawan-wisatawan terus berdatangan di setiap harinya.
“Masih jau nggk Rey.” Stella kembali menanyakan hal yang sama
Rey tidak menjawab, dia hanya sedikit memberikan isyarat pada Stella.
“Sssst, Rey memberhentikan langkahnya dengan sedikit membungkukkan badan tegapnya. Stella yang heran melihat sahabatnya yang tiba-tiba berhenti berbisik menanyakan alasan kenapa dia tiba-tiba bertingkah seperti itu.
Rey melanjutkan langkahnya dengan pelan-pelan dan di ikuti Stella. mereka mendekat dengan mengendap-ngendap agar Tupai-tupai itu tidak berlari karena ketakutan.
“Stell!!, sekarang coba kamu liat di depan sana. Rey berbisik pada Stella.
Stella terlihat kebingungan apa maksud dari sahabatnya itu. Yang dia lihat hanyalah pohon beringin besar dan dua batu cadas di bawahnya.
“Maksudmu apa Rey, jadi kamu mengajakku berjalan menyusuri hutan sejauh ini hanya untuk menunjukanku pohon beringin dan batu itu.” Stella terlihat sebal dengan mengeraskan suara.
“apaan sih Stell, liat dulu dong baik-baik di sebelah beringin yang satunya lagi.”
Stella memperhatikan kembali apa yang ada di depannya, berusaha mencari arah yang di tunjukkan Rey. Tiba-tiba ekpresin wajah Stella terliha antusias saat ia melihat tujuh Tupai di atas pohon. Dia merangkak mengintip dari balik pohon besar dengan meraba ponsel yang ada di kantung bajunya.dia tak henti hentinya melotot melihat tupai yang terlihat sedang membuat rumahnya di atas pohon beringin besar yang rindang.
Pusssh.pusshh.pussh.
Stella yang tak tahan lagi ingin memotret Tupai-tupai itu dari jarak lebih dekat lagi tak sengaja menginjak ranting pohon kering. Rey mencubitnya. Beruntung tupai-tupai itu tak mendengarnya dan lari akibat ulah Stella.
Pusshh. Itu suara tupai ke tujuh yang melompat ke sungai yang sekilas terlihat seperti bendungan kecil yang sengaja di buat dengan di tebengi bebatuan dan batang pohon kering yang telah tumbang. Dengan gagahnya tupai-tupai itu terjun ke sungai, seakan seorang atlet renang yang sedang memain keahliannya dalam melompat indah. Sungai itu terlihat jernih dengan air yang mengalir langsung dari jantung hutan yang selama ini telah banyak di manfaatkan penduduk lembah sanggar sebagai sumber air minum. Namun yang jadi permasalahannya adalah penduduk di sana masih belum bisa menmanfaatkannya untuk mengairi pesawahan mereka. “terbayar sudah lelah perjalananku selama beberapa menit ini”. Stella yang tadinya saat dalam perjalanan terlihat sebal dan tak henti-hentinya bertanya pada Rey kini terlihat antusias dan sangat gembira seakan ingin tetap berada di tempat itu untuk beberapa jam lagi.
“Kita kembali ke tenda sebelum mataharinya terbenam”. Rey yang tadinya beberapa kali melihat jam tangannya memutuskan untuk kembali ke tenda sebelum mata hari terbenam karena ia tak ingin terjadi apa-apa dengan sahabatnya. Konon katanya hutan di Lembah sanggar ini di huni oleh dua serigala yang selalu mencari mangsanya saat matahari sudah terbenam. Legenda ini semakin di kuatkan dengan cerita salah seorang penduduk yang katanya telah mendengarkan langsung suara long-longan serigala tersebut saat sedang mencari kayu bakar di hutan.
“ayo Stell kita kembali ke penginapan sebelum mataharinya terbenam.” Rey mengulang kembali perkataannya yang mungkin tak di dengarkan oleh Stella.
“nanti dulu ya Rey. Aku masih pengen liat tupainya sampai masuk ke rumahnya, kayaknya lucu deh.”
Rey berjalan meninggalkan Stella karena dia tau sifat Sahabatnya itu kalau sudah begitu akan sangat sulit sekali di bujuk.
“Rey, yah kok kamu ninggalin aku sihRey.” stella berusaha mengejar sahabatnya yang tiba-tiba meninggalkannya.
“Aku kenal kamu udah lama. Kalau aku nggk ninggalin kamu pasti bakalan sulit banget di bujuk kalau udah yang namanya terlanjur seneng atau sedih.
“Tapikan aku pengen liat Tupai-tupainya sampai masuk ke rumahnya, itu aja kok.”
“Yaudah kalau kamu pengen liat. Mending balik kesana nanti pulang sendiri kalau udah puas ngeliatnya.” Rey menjawab omongan Stella dengan sedikit judes. Bukan karena rey marah atau kesal, melainkan dia hanya tak ingin terjadi hal yang tak mereka inginkan kalau harus pulang sampai hutan mulai gelap hanya gara-gara menurutu kemauan Stella.
“Rey, pelan-pelan dong jalannya. kayak orang lagi di kejar setan aja.” Stella terlihat sedikit jengkel dengan sikap Rey yang sendari tadi terus berjalan dengan begitu gesit membuat Stella kewalahan mengejarnya.
Mereka kembali ke perkemahan dengan selamat, walaupun Stella yang terus berusaha menyamakan langkahnya dengan Rey sesekali terjatuh. Beruntung mereka sampai ke perkemahan tepat waktu sebelum akhirnya semua berkumpul untuk melakukan kunjungan ke desa-desa di sana untuk memberikan sedikit bantuan pada masyarakat lembah sanggar dan sekitarnya.
“Baiklah, mohon perhatiannya sebentar. Sekarang kita akan melakukan kunjungan ke desa-desa sekitar puncak dengan sedikit memberikan bantuan pada mereka. Di mohon kepada rekan-rekan sekalian untuk menjaga sikap saat kita mulai melakukan kunjungan nanti, dan di mohon pada rekan-rekan yang telah di tunjuk sebagai panitia dalam pembagian bantuan agar melaksanakan tugasnya dengan baik.” Suara pak gilang terdengar begitu tegas namun santun.
Tak menunggu lama merekapun mulai mengunjungi desa-desa di sekitaran puncak mulai dari Lembah Sanggar, Lembah lembayan, dan desa-desa lainya tanpa ada kendala sedikitpun, merekapun di sambut dengan baik oleh masyarakat di sana, di anggap seperti keluarga sendiri. Terlihat beberapa warga melayani mereka sebagai tamu istimewa.
Penduduk Lembah Sanggar sedang berkumpul malam ini untuk merayakan pesta pernikahan anak seorang petua di desa itu. Rombonganpun di undang dalam rangka menyambung silaturrahmi dan kekeluargaan karena masyarakat lembah sanggar merasa rombongan Stella dan lainnya sudah sangat baik kepada mereka.
masyarakat lembah sanggar mulai memainkan tarian-tarian adat mereka yang di iringi dengan suara gendang yang di mainkan dengan suara khas.
Terlihat lenggak-lenggok penarinya dengan gestur tubuh yang kian menawan gerakan-gerakan tari khas desa lembah Sanggar benar-benar indah dan cukup langka. Setiap gerakan yang di lakukan merupakan simbol yang memiliki makna budaya dan keagamaan tersendiri.

“Dimana Stella,” Rey yang tersadar bahwa sahabatnya Stella sendari tadi tak terlihat seakan membuat suasana yang tadinya di selimuti kegembiraan berubah menjadi tegang.
“Ayo dong dimana Stella. Ada yang sudah melihatnya atau tidak.” Rey yang sendari tadi mencari-cari Stella kembali menyakan keberadaan Stella pada yang lainnya, terlihat jelas sekali dari gelagatnya ia khawatir sekali dengan keadaan Sahabatnya Stella.
“Tasya kamu tau Stella dimana, tadi terakhir kali aku melihatnya bersamamu.”tanya Rey. Tasya menggelengkan yang menandakan bahwa ia tak tahu keberadaan Stella.
“Sebaiknya kita bergegas mencarinya sebelum terlambat.” Ucap Salah seorang warga lembah sanggar memecahkan suasana sepi tersebut.
“Apa maksudmu Sebelum terlambat?.sebagian mahasiswa yang terlihat bingung bercampur khawatir tersebut bertanya-tanya pada pemuda itu. Ucapan pemuda itu membuat Rey semakin khawatir. Fikiran rey langsung tertuju pada Cerita yang sering ia dengar dari kakeknya tentang serigala penghuni gunung Sragen.
****

Bagi penduduk di Lembah Sanggar itu, Legenda Tentang Serigala Gunung Sragen selalu di wariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Mungkin dahulu para orang Tua sengaja membuat kisah demikian agar anak-anak mereka tidak terlalu pulang larut malam dan bermain ke jantung hutan tersebut.
Di kisahkan di lembah gunung sanggar ratusan tahun silam bangsa serigala dan manusia hidup secara berdampingan, saling melengkapi dan mencukupi. Antara Bangsa serigala dan manusia bisa hidup saling berdampingan tanpa saling mengganggu sedikitpun. Hingga pada suatu ketika perdamain yang kian telah terjalin lama itu berakhir dengan peristiwa tragis.
Seorang penduduk kampung Lembah Sanggar yang sedang mencari rotan di tengah hutan tersesat dan tak sengaja memasuki daerah terlarang di tengah jantung hutan.
Entah apa yang terjadi malam itu. Penduduk warga lembah sanggar yang sedang di landa ketakutan dan khawatir itu dengan keadaannya di tengah hutan tak sengaja melempari semak-semak yang bergerak. Pisau yang ia lemparkan mengenai seekor anak serigala yang menyebabkan anak serigala itu mati. Karena di anggap merusak perjanjian, para bangsa serigala meminta ganti rugi, yaitu nyawa harus di balas dengan nyawa. karena penduduk Lembah Sanggar menolak keinginan dari bangsa Serigala tersebut. Maka bangsa Serigala memutuskan untuk membalas dendam dengan mencuri anak-anak penduduk Lembah sanggar di waktu malam. Sejak kejadian itulah bangsa Serigala di Sebut-sebut sebagai siluman.
Seiring berjalannya waktu populasi serigala semakin berkurang karena banyaknya perambah dari kota dan para pemburu yang secara sengaja memburu mereka untuk di ambil daging dan kulitnya. Serigala-serigala yang behasil kabur terpaksa melarikan diri ke jantung hutan yang di anggap aman sebagai tempat bersembunyi. Legenda tersebut di percayai hingga saat ini.
***

“Kita harus bergegas. Sebelum malam mulai larut teman kalian harus sudah kita temukan. Serigala penghuni gunung Sragen biasanya akan menipu mangsanya dengan membuat halusinasi yang akan terlihat sebagai sebuah gubuk yang penuh dengan keramain.
“kita bagi menjadi dua kelompok. Saya dan sebagian pemuda lainnya berjalan menyusuri hutan ke arah selatan dan sebagian lagi menyusuri hutan ke arah barat. Perintah Wak Aziz yang di percayai sebagai petuah di desa sanggar.
Rey yang di luputi rasa cemas akan keadaan sahabatnya itu terus melirik jam yang menempel di tangannya. jam menunjukkan pukul setengah dua belas. Kekhawatiran Rey semakin memuncak saat mendengar suara lolongan Serigala seakan terdengar seram dan menakutkan.
“ini semua salahku.”seandainya aku tak membiarkan Stella sendiri ini semua tak kan mungkin terjadi. Ini semua salahku.” Tak henti-hentinya Rey menyalahkan dirinya sendiri.
“Bagaimana?, apa ada yang menemukan Stella. Ucap wak Aziz dengan nada sedikit penasaran.
Tak ada jawaban. Tak seorangpun yang bisa melihat jejak Stella apalagi menemukannya. Kekhawatiran Rey tak mampu untuk di bendung lagi. Rey seakan prustasi dengan semuanya kembali menyalahkan dirinya.
Rey teringat sesuatu.
”Tupai pohon itu. Ia tupai pohon itu, pasti Stella kembali kesana sendirian karena jika mengajakku ia tentu tahu aku akan menolaknya.” Tanpa berfikir panjang Rey berlari ke rumah kakeknya, kakek Burhan. Seakan tak peduli dengan keadaannya saat ini karena dari tadi pagi Rey tak pernah Ber istirahat. Yang ada pada fikirannya saat ini hanyalah Stella. Keselamatan Stella jauh lebih penting dari segalanya.

Tangan kekar Rey dengan Sigap mengambil Pedang peninggalan dari Pamannya yang di nyatakan sebagai salah satu korban dari Siluman Serigala penghuni gunung Sragen itu.
Waktu itu usia Rey sekitar lima bulan. Wak panji, paman dari ibu Rey pergi untuk berburu ke hutan. Namun hingga larut malam Wak Panji tak kunjung pulang, tentunya semua keluarga cemas dengan keadaan Wak Paji, terutama mak wandari ibu Rey. karena wak Panji tak kunjung pulang, warga memutuskan untuk melakukan pencarian malam itu juga. Semua pemuda desa telah di kerahkan dalam pencarian, namun tak ada yang berhasil menemukan Wak panji. Karena malam sudah mulai larut, dengan terpaksa warga memutuskan untuk melanjutkan pencarian di waktu pagi. dalam perjalanan pulang seorang pemuda yang tersandung akar pohon dan terjatuh tak sengaja menemukan pedang yang telah bercampur dengan percikan darah yang terlihat sudah mulai mengering.
“Ini pedang yang di bawa Panji terakhir kali.” Ucap mak wandari dengan tangisan yang tak henti henti.
Sejak itulah Wah Panji di duga telah menjadi korban Siluman Serigala penghuni Gunung Sragen.
Rey tak mau kejadian yang menimpa Wak panji menimpa Sahabatnya Stella. Lantas ia berlari sekencang-kencangnya ke tempat tupai-tupai pohon itu.
“Stella tunggu aku.”Ak tak ingin kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya.”
Rey menyusuri jalan yang penuh dengan semak-semak hanya dengan di bekali obor dan pedang peninggalan Wak panji. Sesekali ia terlihahat sibuk menebas semak-semak yang menghalangi jalannya.
“Stella. Stella. Kamu dimana aku mohon jawab panggilanku. Jangan buat aku khawatir dong.”

****

Stella berjalan pontang-panting tak tau arah. Hutan semakin gelap tak ada cahaya sedikitpun kecuali cahaya rembulan malam itu. Stella tak tau lagi akan berbuat apa, suara lolongan serigala seakan membuatnya mati ketakutan.
“Rey, kamu di mana. Tolong aku”.Stella hanya bisa menangis pasrah dengan keadaannya di tengah hutan dengan ketakutan luar biasa yang ia rasakan malam ini.
“Srekk.Srekk.Srekk.”
Terlihat semak-semak yang bergoyang, semakin menambah ketakutan Stella. Suara lolongan serigala semakin keras dan terdengar semakin dekat menjadikan Menjadikan Stella seakan mati rasa.
“Rey, please tolong aku. Aku janji nggk bakalan pergi diam-diam lagi kayak gini. Tak henti-hentinya Stella memanggil-manggil nama sahabatnya Rey, berharap segera menyelamatkanyya.
Stella sangat terkejut, bercampur dengan ketakutan yang luar biasa saat dua ekor Serigala tiba-tiba muncul dari semak-semak. Sesekali Stella coba melarikan diri, namun apalah dayanya, Tenaganya sudah terkuras habis karena lelah berjalan menyusuri hutan.
Stella terjatuh tersandung akar pohon beringin besar yang tak bisa ia lihat karena gelap.
“ duh kakiku sakit sekali.” Terdengar suara Stella merengek kesakitan saat terjatuh tersandung akar pohon beringin tadi. Dua Serigala itu semakin mendekat, seakan siap menerkam Stella.
“Tolong. Tolong.” Tak ada gunanya lagi meminta bantuan gumamnya dalam batin. Seakan pasrah dengan nasipnya yang akan menjadi santapan dua serigala yang terlihat ganas dan lapar.
Stella kembali bangkit, berusaha bangkit. Namun sayang kakinya kembali tersandung akar pohon, kepalanya terbentur ke sebuah bati di depannya. Perlahan kesadarannya mulai hilang, iapun pasrah pada nasibnya saat ini.
Entah darimana munculnya. Rey seakan malaikat penyelamat bagi Stellla, dia selalu muncul tepat waktu. Terlihat badan kekarnya itu seakan memasang kuda-kuda untuk melawan dua serigala lapar itu
“Enyahlah kalian.” Rey menyodorkan api obor yang ia pegang dengan tangan kirinya pada serigala-serigala itu.
Seakan tak kenal taku, dua serigala itu seakan mengambil ancang-ancang untuk menerkam.
“Jika kalian lapar, makanlah aku jangan Stella, Lepaskan dia.” Seakan tak peduli dengan nyawanya sendiri, Rey seolah-olah membuat kesepakatan dengan kedua serigala di depannya. Dia pasrah sebagai pengganti Stella untuk menjadi santapan dua serigala tersebut.
Entah apa yang terjadi pada serigala-serigala itu, seakan mengerti dan terharu akan pengorbanan Rey yang tak peduli akan keselematannya sendiri hanya demi Sahabatnya Stella. Serigala-serigala itu pergi meninggalkan mereka dan akhinya mereka berdua selamat.

 

Penulis: Satria Adindi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *