Hikayat An-nur: Kisah-Kisah Yang Terkenang
Saya baru saja selesai membaca naskah melayu “Hikayat Abdullah”. Buku ini ditulis oleh Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (1796-1854). Ia dikenal sebagai salah seorang sastrawan besar Melayu. Belakagan juga dianggap sebagai salah satu figur pembaharuan Islam di Asia Tenggara. Naskah “hikayat Abdullah” ini ditulis sekitar tahun 1840, dan edisi cetak pertamanya tahun 1849 diterbitkan di Singapura oleh Mission Press.
Sebagai penikmat sastra waktu senggang–bukan pembaca yang tekun, saya menikmati hikayat ini. Terutama pada satu fragmen tentang “Permulaan Belajar Mengaji”. Membalik lembar demi lembar hikayat ini, saya dibawa terlempar ke masa lalu, dalam suasana religius abad 19 di negeri-negeri Melayu. Ceritera Abdullah tentang pengalaman masa kecilnya saat “belajar mengaji”, seperti membongkar memori kami puluhan tahun yang lalu. Yakni saat kami bersama kawan-kawan yang lain, mengaji di Pesantren An-nur dibimbing langsung oleh sang Murrobbi: Tuan Guru Ruslan Zain.
Hikayat Abdulah ini menyuguhkan latar suasana religi yang khas abad 19. Saat teritori negeri-negeri Melayu tumbuh dalam naungan Kesultanan Islam dan kerajaan-kerajaan Melayu. Kedatangan kaum kolonial kemudian mengubah geopolitik wilayah ini. Inggris dan Belanda berebut pengaruh dan berbagi wilayah kekuasaan di negeri yang dijajah ini.
Pada tahun 1824, dua bangsa kulit putih itu melakukan perundingan, yang kelak disebut “Perjanjian London”. Mufakat dari perjanjian itu menyebabkan Belanda dan Inggris berbagi kuasa wilayah. Malaysia dan sekitarnya dikuasai Inggris, sementara Malaka-Riau dan wilayah Indonesia dikuasa Belanda. Dalam situasi pasca-kolonial, kelak dua wilayah ini tumbuh sebagai bangsa yang serumpun, tapi berbeda negara. Dua kawasan ini berkembang menjadi negara modern, dengan ciri dan kepribadian masing-masing.
Tulisan sederhana ini tidak dimaksudkan untuk jadi sebuah narasi biografis. Namun hanya kehendak menyusun ulang ingatan-ingatan tentang peristiwa di masa lalu yang jauh. Tetapi pada saat yang sama, tentu sebagai cara menyuarakan kata hati dan kerinduan. Sebab hanya dengan menulis, mempertautkan kata demi kata, menyambung kalimat, masa lalu bisa “dihidupkan” kembali di dalam teks.
Abdullah Munsyi, sang shohibul hikayah itu, mengenang masa kecilnya sebagai santri. Ia menceritakan bagaimana ketika ia harus memulai menjadi santri. Dalam otobiografinya ia menggambarkan:
“Dulu, jika anak kecil mau mengaji, maka orangtuanya melepaskan anaknya mengaji, maka datanglah ibu atau bapa budak yang akan mengaji itu dahulu menyembah guru…,”.
“Menyembah” dalam teks ini kosa kata Melayu yang bisa dimaknai ”menghadap dengan penuh takzim di hadapan guru ngaji”. Meski cerita Munsyi terjadi di penghujung abad 19. Namun agaknya kebiasaan semacam ini masih berlaku dan kita saksikan hingga akhir tahun 1990-an di Lombok. Pun di kembang kerang, umumnya kita diantar lalu diserahkan oleh orangtua kepada guru ngaji.
Munsyi menuturkan bagaimana orangtua menyerah anaknya kepada guru ngaji:
“Tuan atau Enci, sahaya pinta dua perkara sahaja: pertama-tama biji mata budak ini dan kedua kaki tangannya jangan dipatahkan, maka lain daripada itu, enci’ punya suka.”
Demikianlah gambaran “penyerahan” orangtua zaman dulu ketika hendak melepaskan anaknya belajar mengaji. Anaknya diserahkan untuk dibimbing, dan guru diberi hak penuh melakukan apa saja kepada santri, kecuali dua hal sebagaimana disebut Munsyi. Gambaran itu tampaknya sudah semakin langka hari-hari ini. Zaman telah berubah, situasi berbeda, pun pola interaksi sosial ikut bergerser. Kini kita menyaksikan aneka ragam sistem “mengaji” dari yang paling instan dengan metode-metod baru, hinggga lembaga-lembaga tempat mengaji yang berbayar.
Potongan kisah penyerahan orangtua dalam Hikayat Munsyi itu, mengingatkan saya pada dua orang guru, yakni Prof. Dr. Jamaludin, MA dan Ust Dr. Zulyadain, MA. Kisah dua orang tersebut kerap diceritakan oleh Murobbi kami Tuan Guru Ruslan, bahwa kedua orangtua mereka dulu menyerahkan anaknya kepada beliau, untuk diajar mengaji di Pesantren Annur. Kisah dua orang itu hanyalah sepenggal kisah, masih banyak kisah-kisah lainnya.
Sebagai santri yang datang jauh di belakang dua sosok tersebut, kami juga merasakan bagaimana atmosfer kala menjadi santri Annur. Sekitar tahun 1990-an akhir, kami ikut bergabung mengaji di pesantren annur. Di sana saya menjumpai beberapa kawan lain yang tengah bergabung menjadi santri. Di sanalah bacaan qur’an kami, dan beberapa kitab kuning lainnya dibimbing lansung saban subuh dan magrib oleh sang Murrobi: Tuan Guru Ruslan.
Abdullah terkenang-kenang tentang pukulan, tamparan, gerutu dan makian dari sang guru kala ia masih kanak-kanak. Ia menceritakan: Setiap kali anak-anak melakukan kesalahan dalam membaca Qu’ran, mereka tak kuasa lepas dari cengkeraman disiplin sang guru, yakni pasti akan dimarahi. Tampaknya kisah itu seperti nyaris serupa dengan “hikayat Annur”. Kami atau kita semua, yang pernah nyantri di sana, pasti pernah mengalami situasi tersebut. Semua santri harus membaca dengan benar, entah ketika ngaji Qur’an atau membaca kitab kuning. Ketika salah, maka pasti dapat teguran, kadang-kadang juga pukulan.
Sebagaimana Abdullah merasa tertekan dengan situasi itu, kita juga mungkin sama kala itu. Bahwa mengaji bagi Abdullah, seolah-olah menjadi aktivitas hidup yang menyeramkan. Oleh karenanya, kadang dia mencari alasan, pura-pura sakit, agar tidak pergi mengaji dan tidak mendapat hukuman dari gurunya. Mungkin diantara kita, anak-anak An-nur, juga pernah melakukan hal yang sama, sering tidak mengaji untuk menghindar dari teguran sang guru.
Bertahun-tahun kemudian, kelak ketika dia dewasa, Abdullah baru sadar. Bahwa betapa beruntungnya dia telah berkesempatan menempa diri belajar mengaji di bawah bimbingan gurunya. Abdullah mengubah kenangan masa kecilnya yang dianggap “mencekam” menjadi sangat manis. Dengan penuh rasa haru ia mengungkapkan: “bahwa bilur-bilur rotan di badannya ibarat suluh bagi perjalanan hidupnya. Tamparan dari guru mengajinya menjadi cermin mata bagi masa depannya”. Ia bahkan mengenang sepenuh cinta : “Bahwa sekaranglah baharu aku kecap akan air madu yang telah terpancar daripada sarang lebah yang telah ku-usahakan menunggu akan dia daripada zaman kecilku itu.”
Ungkapan Abdullah seperti mewakili banyak orang, saya, anda, dan mungkin kita semua yang pernah mengaji di pesantren Annur. Kita yang pernah mencecap bimbingan lansung dari guru kita Tuan Guru Ruslan. Apa yang dulu membuat kita merasa takut, merasa tertekan, kini telah berubah menjadi rasa manis, sebagai suluh (penerang) jalan hidup, dan sebagai kompas bagi masa depan. Dari Abdullah Musnyi kita belajar bahwa marahnya guru adalah cinta yang terlambat kita pahami, butuh perjalanan panjang dan pengembaraan untuk memahami bahwa marah itu adalah cinta yang tulus dari guru demi masa depan santri.
Kenangan-kenangan diajak keliling mengaji oleh beliau, baik isra’ mi’raj dan maulid nabi ke desa desa di Lombok, kini bemunculan kembali. Kami berebut “berkat” di pesantren tiap kali beliau pulang mengaji. Kami diajak ke sawah, memetik kelapa atau sekadar mengecek padi. Kami dibagikan uang selepas mengaji tiap musim panen padi. Juga diajak pergi pasar membeli barang-barang untuk kios saat masih di rumah utara.
Kini, santri-santri An-nur yang jauh di atas kami, dan yang segenerasi, sebagain besar sudah menjadi guru, dosen, penyuluh agama, dan berbagai profesi lainnya. Generasi di bawah kami, sebagian sedang menjadi santri kelana di tanah Jawa dan Timur Tengah; Makkah dan Mesir.
Tugas beliau mencetak generasi sudah nyaris “kamal”—Paripurna. Putra-putri beliau sebagian besar sudah sukses, dan sebagian yang lain sedang meniti jalan kesuksesan. Setelah beberapa dasawarsa beliau berjibaku dengan gigih dan tanpa lelah membimbing keluarga, santri, jama’ah dan ummat. Saatnya kini beliau memanen cinta dan segala do’a dari keluarga, putra-putri beliau tercinta, para santri, jama’ah dan ummat.
Semoga beliau senantiasa sehat dan terus membaik, serta dikaruniai umur panjang. Selamat ulang Tahun ke-68 Murobbi Kami.
