Prinsip Primordial Ajang Intelektual: Nalar Konstruktif Berbasis Jurumiyah [Bab Kalam: Seri-2]
Muhammad Syafirin, Jum’at 25 Desember 2020.

Tulisan ini merupakan seri ke-2 dari penelitian penulis terhadap kitab Matan Jurumiyah. Pada seri pertama terdahulu, penulis telah mencoba menemukan makna ideal berdasarkan pendekatan teologis terhadap makna ‘Kalam’ dengan konsistensi paradigma Qur’ani. Kemudian, pada seri ke-2 ini, penulis ingin mencari eksposisi dasar untuk menemukan makna konstruktif yang terdapat dalam ‘Bab Kalam’. Hal ini, bertujuan menawarkan solusi baru dalam meningkatkan kinerja keilmuan di Perguruan Tinggi Islam Darul Kamal. Termasuk pula dalam mengintegrasikan intelektual dan kreativitas mahasiswa, baik di dalam lingkungan kampus maupun di luar area kampus.
Penulis tidak menganggap solusi ini ialah yang terbaik. Namun, usaha menggali dan menemukan kerangka dasar dalam teks-teks parsial yang bernuansa gramatik seperti kitab Matan Jurumiyah, patut dianggap sebagai premis nadir (kelangkaan) dalam sebuah penelitian. Karena, orang yang hanya melihat Matan Jurumiyah dengan sudut pandang gramatikal (Nahwu), tidak akan pernah menemukan ruang filosofis yang tercelangap di dalam setiap bait-baitnya. Seseorang akan mampu menemukan makna asas (esensi) dan realitas keberagaman interpretasi, apabila dia mampu berdialektika dengan sentralitas Jurumiyah dan berkorelasi dengan seperangkat teori di luar konteks Jurumiyah itu sendiri.

Pada seri terdahulu, sebuah entitas ‘Kalam’ ditafsirkan sebagai ‘isyarat Qur’anic’; yang terdiri dari mekanisme pewahyuan Qur’an, antologi Qur’an sebagai kitab suci, eksistensi Qur’an dalam kehidupan manusia, dan formalitas linguistik Qur’an sebagai firman Tuhan. Dan dalam tema seri-2 ini, pemaknaan ‘Kalam’ lebih sekuler dibanding tafsiran pertama. Jika terminologi dasar dari ‘Kalam’ ialah ucapan yang terstruktur yang mengandung perfeksi makna dengan menggunakan bahasa Arab, maka sah-sah saja apabila kita menafsirkannya sebagai sebuah ajang (wadah). Karena sesuatu yang dinamakan sebagai ‘Kalam’, dia mewadahi empat pilar utama, sebagai bukti legalitas dalam dirinya, seperti; lafazh, murakkab, mufid dan wadha’.
Konsep ‘wadah’ sebagai penafsiran baru atas ‘Kalam’, dapat dikontekstualisasikan dalam beragam dimensi; dan atas sebab diri penulis yang mengenyam study di STAI, maka penafsiran konsep ‘wadah’ atas ‘Kalam’, mengantarkan kearah dimensi yang akademis. Dan penulis melihat, kata ‘Darul Kamal’ merupakan istilah yang tepat sebagai hasil dari tafsiran konsep ‘wadah’ ini. Karena, di samping realitasnya sebagai kampus yang mewadahi tiga buah prodi perguruan tinggi, identitasnya juga selaras dengan esensi ‘Kalam’ itu sendiri. Pada saat kita mengucapkan دَارُ الْكَمَال “Darul Kamal”, keempat elemen yang menjadi pilar ‘Kalam’ terkumpul di dalamnya. Baik dari segi lafaz, susunan kata (tarkib), pengertian yang terkandung (mufid), serta berbahasa Arab (wadha’).

Dalam menemukan nilai-nilai konstruktif di dalam STAI Darul Kamal, penulis akan menggunakan periodisasi (pembagian) ‘Kalam’ sebagai sentral analisis. Berdasarkan struktur pembentukannya, periodisasi ‘Kalam’ di dalam kitab Matan al-Jurumiyah terdiri dari tiga komponen; sebagaimana yang tercantum dalam matan berikut ini.
الكَلاَمُ هُوَ اللَّفْظُ الْمُرَكَّبُ الْمُفِيْدُ بِالْوَضْعِ* وَ أَقْسَمُهُ ثَلاَثَةٌ : إِسْمٌ وَ فِعْلٌ وَ حَرْفٌ جَاءَ لِمَعْنَى
Teks yang bergaris bawah di atas, merupakan periodisasi ‘Kalam’ yang dimaksud. Terdapat tiga macam komponen penting, yaitu إِسْمٌ ‘Isim’, فِعْلٌ ‘Fi’il’, حَرْفٌ جَاءَ لِمَعْنَى ‘Huruf’.
إِسْمٌ (Isim) berarti ‘nama’ (kata benda).
فِعْلٌ (Fi’il) berarti kata kerja.
حَرْفٌ جَاءَ لِمَعْنَى (Huruf) berarti kata penghubung.
Satu hal yang menjadi keunikan pada komponen urutan ke-3 (huruf), mengapa mesti ditambahkan keterangan جَاءَ لِمَعْنَى Ja’a lima’na;? Hal ini menandakan, tidak semua yang dikatakan huruf, boleh menjadi bagian dari ‘Kalam’. Suatu huruf akan mendapat ruang sebagai bagian dari struktur ‘Kalam’, apabila meniscayakan sebuah makna dan kebermanfaatan. Tentunya, secara filosofis, yang demikian dapat melahirkan konsep skunder dari kontekstualisasi kata ‘huruf’ tersebut.
Makna Filosofis
Dalam konteks Darul Kamal, ada tigal komponen sentral yang mesti ditegakkan untuk mewujudkan peradaban intelektual yang berkemajuan, berdasarkan falsafah periodisasi ‘Kalam’ di atas.
Pertama, إِسْمٌ ‘Isim’ (Inovasi).

Secara harfiyah Isim berarti ‘nama’ atau ‘kata benda’. Ini menunjukkan, setiap benda apapun di dunia ini, tidak akan terlepas dari sebuah identitas (nama). ‘Nama’ juga dapat bermakna konsep. Dari konsep inilah, akan melahirkan ide, gagasan, bahkan pola pandang yang visioner. Dalam konteks Perguruan Tinggi Darul Kamal, menciptakan sebuah ‘konsep’ merupakan prinsip utama. Terlebih lagi Perguruan Tinggi yang merupakan center of excellence harus melakukan reposisi dalam konteks peningkatan mutu pendidikan yang inovatif. Upaya-upaya yang dapat dilakukan, bisa berupa restrukturisasi sistem pembelajaran di setiap prodi yang ada, dengan perencanaan yang baik (well-planned), kemudian merealisasikan planing tadi dengan benar (well-actuated), dan dievaluasi dengan bijak secara berkesinambungan (well evaluated/controlled), dan tentunya tetap dalam bingkai semangat continous updating.

Di samping upaya-upaya di atas, terdapat juga beberapa prinsip pembelajaran yang dapat meningkatkan mutu pendidikan mahasiswa, seperti: mendorong kontak baik antara mahasiswa dan dosen (interaksionalitas), baik di dalam maupun di luar kelas. Kemudian, mendorong pembelajaran yang aktif dan mengkomunikasikan ekspektasi tinggi. Selain itu, perlunya juga menekankan waktu dan tugas untuk para mahasiswa. Dan yang terpenting adalah menghormati bakat dan kecenderungan yang berbeda-beda.
Kedua, فِعْلٌ ‘Fi’il’ (Kreatifitas).

Fi’il diartikan sebagai ‘kata verba’ atau ‘tindakan’. Setiap perilaku atau aksi yang dilakukan oleh manusia, guna mencapai tujuan tertentu, dinamakan ‘tindakan’. Sebuah tindakan yang baik akan melahirkan kebermanfaat bagi sesama. Namun sebaliknya, tindakan yang buruk yang ditampilkan manusia, akan mencitrakan kemudaratan bagi dirinya dan sekitarnya.
Dalam konteks Perguruan Tinggi Darul Kamal, sebuah ‘tindakan’ mesti diaktualisasikan demi tercapainya cita-cita luhur kampus tercinta. Tanpa sebuah tindakan, kampus akan terlihat seperti bangunan mandek, stagnan, bahkan tandus dari nilai-nilai intelektualitas. Bagi setiap kampus yang mendambakan kemajuan dan peradaban, harus menciptakan kreatifitas yang sportif.
‘Kreatif’ belakangan ini menjadi sebuah kata sakti yang seolah-olah menjadi jargon untuk memberikan sentuhan ajaib yang dapat meningkatkan nilai jual sesuatu. Kreatif adalah skill untuk menemukan hubungan dan memunculkan ide-ide baru/adaptif yang memiliki fungsi dan kegunaan secara komprehensif untuk berkembang.
Kampus yang dianggap sebagai wadah intelektual, diharapkan menjadi inkubator yang dapat menstimulasi mahasiswa dalam menimba ilmu-ilmu akademik. Selain sebagai wadah intelektual, kampus juga harus meransang kreatifitas mahasiswa untuk berkreasi; menciptakan inovasi dan mengejar tantangan masa kini dan masa depan.
Maka, untuk mencapai tujuan kampus kreatif ini, sebuah fasilitas pendidikan dapat menyediakan program atau fasilitas pendukung yang tidak biasa. Atau meningkatkan mutu perpustakaan serta kegiatan-kegiatan diskusi maupun seminar lainnya.
Ketiga, حَرْفٌ جَاءَ لِمَعْنَى ‘Huruf yang mendatangkan makna’ (Produktifitas).

Secara bahasa, huruf berarti ‘karakter’. Dalam pengertian yang lain, huruf juga bermakna inisialitas, yang dengannya digunakan untuk membentuk sebuah kata. Akan tetapi, dalam hal ini, huruf yang dikehendaki menjadi bagian dari periodisasi ‘Kalam’ adalah huruf yang memiliki takrif atau signifikansi terhadap kata yang ia lekati. Maka, pemaknaan yang tepat untuk huruf dalam kajian ini adalah ‘karakter’.
Dalam konteks Perguruan Tinggi Darul Kamal, sebuah ‘karakter’ (intelektual) masih terlihat asing dan jumud. Hal ini, dapat dilihat dari kreativitas mahasiswa yang jauh dari kata ‘produktif’. Penulis menilai, sekitar 95% dari nafas kampus, hanya digunakan dalam kegiatan pembelajaran formal saja, sedangkan yang 5% hanya terlihat pada saat-saat tertentu. Selama dua tahun mengenyam study di Darul Kamal, penulis melihat, tidak lebih dari empat kali diadakannya seminar dan diskusi ilmiah. Padahal, kalau kita ingin berkata, semua dosen-dosen di STAI Darul Kamal, memiliki bobot intelektual yang militan dan komplementer. Jika hal tersebut digunakan dengan cara intensif disertai jiwa yang asketik, maka harapan besar STAI Darul Kamal akan cepat terwujud dan terlaksana sesuai dengan yang dicita-citakan bersama.

Untuk mewujudkan hal tersebut, ada dua program sentral yang seyogyanya dibangkitkan dalam lingkungan STAI Darul Kamal, di antaranya; pertama, menghidupkan kembali organisasi kampus (BEM) yang telah sekian lama mengalami kesyurian maut. Karena yang demikian, termasuk bagian daripada sebuah ‘karakter’ di setiap Perguruan Tinggi. Kedua, membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Tujuannya adalah untuk mempersatukan kreatifitas mahasiswa sesuai dengan hobi dan kecenderungan masing-masing. Tentunya hal ini berbeda dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), yang hanya menyatukan identitas ke-prodian saja. Padahal, kendatipun mahasiswa berkumpul dalam stu lingkaran prodi, orientasi skill nya bisa berbeda-beda. Oleh karena itu, dalam tahap minimal, dua program sentral ini sangat membutuhkan perhatian penuh dari STAI Darul Kamal. Salam hangat dari mahasiswa yang mencinta untuk kampusnya…!
Demikian semoga bermanfaat…!

LUAR BIASA UST.
SUBHANALLAH BARAKALLAHU.
Syukron ust..